Sejarah dan Asal Usul Gunung Bromo yang Menarik untuk Diketahui

Sejarah Gunung Bromo merupakan perpaduan antara proses geologi purba dan legenda rakyat yang masih dipercaya masyarakat Tengger hingga sekarang. Gunung ini lahir dari keruntuhan Gunung Tengger Purba puluhan ribu tahun lalu, sekaligus diyakini terkait erat dengan kisah Roro Anteng dan Joko Seger, leluhur Suku Tengger. Kombinasi kedua unsur ini membuat Bromo bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga situs budaya yang sarat makna. 

Memahami kisah di balik kawasan ini bisa membuat kunjungan Anda ke Bromo terasa lebih bermakna, bukan sekadar menikmati panorama alam. Penasaran bukan? Yuk, simak asal-usul dan cerita di balik gunung ikonik ini! 

Sejarah Nama Gunung Bromo

Nama “Bromo” dipercaya berasal dari kata Brahma, salah satu dewa utama dalam ajaran Hindu yang berperan sebagai dewa pencipta. Penamaan ini berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat Tengger yang menganut ajaran Hindu Tengger, sebuah bentuk kepercayaan lokal yang berakar dari tradisi Majapahit.

Beberapa hal yang berkaitan dengan penamaan ini:

  • Gunung Bromo dianggap sebagai tempat suci karena diasosiasikan dengan Dewa Brahma.
  • Kawah Bromo sering dijadikan lokasi pemujaan dan persembahan oleh masyarakat Tengger.
  • Nama “Brahma” kemudian mengalami pergeseran pelafalan menjadi “Bromo” seiring waktu.

Penamaan berbasis Brahma ini juga menunjukkan betapa eratnya hubungan spiritual masyarakat Tengger dengan gunung tempat tinggal mereka. Bagi mereka, Bromo bukan sekadar bentang alam, melainkan wujud kehadiran Sang Pencipta di tengah kehidupan sehari-hari. 

Legenda Roro Anteng dan Joko Seger

Sejarah Gunung Bromo tidak bisa dilepaskan dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger, cikal bakal masyarakat Tengger. Konon, keduanya adalah pasangan yang telah lama menikah namun belum dikaruniai keturunan. Mereka lalu memohon kepada para dewa agar diberikan anak, dan permohonan tersebut dikabulkan dengan syarat: anak bungsu mereka kelak harus dikorbankan ke Kawah Bromo.

Setelah dikaruniai 25 anak, pasangan ini enggan memenuhi janji tersebut. Namun, gunung mulai mengeluarkan letusan sebagai peringatan. Akhirnya, anak bungsu mereka, Kesuma, merelakan diri terjun ke kawah demi keselamatan warga Tengger. Sebelum menghilang, Kesuma berpesan agar keturunannya senantiasa mengadakan sesaji ke kawah setiap tahun sebagai penghormatan.

Asal Usul Upacara Kasada

Dari legenda Roro Anteng dan Kesuma inilah lahir tradisi Yadnya Kasada, upacara tahunan yang masih dilestarikan masyarakat Tengger hingga sekarang. Upacara ini digelar pada bulan Kasada (bulan ke-10 dalam penanggalan Jawa-Tengger) dengan melemparkan hasil bumi, ternak, hingga uang ke dalam kawah sebagai bentuk syukur dan penghormatan kepada leluhur.

Tradisi ini biasanya menarik perhatian wisatawan karena:

  • Dilaksanakan tepat di bibir Kawah Bromo pada dini hari.
  • Diikuti ratusan warga Tengger yang datang dari berbagai penjuru kawasan.
  • Menjadi salah satu daya tarik budaya yang memperkaya pengalaman berkunjung ke Bromo, selain menikmati sunrise.

Aktivitas Vulkanik Gunung Bromo

Selain sisi legenda, Bromo juga memiliki sejarah geologis yang panjang sebagai gunung berapi aktif. Gunung ini merupakan bagian dari kompleks pegunungan Tengger yang terbentuk dari letusan besar ribuan tahun lalu, menyisakan kaldera raksasa yang kini dikenal sebagai lautan pasir.

Sepanjang sejarahnya, Bromo tercatat beberapa kali mengalami erupsi dengan skala berbeda-beda, mulai dari letusan kecil berupa abu vulkanik hingga letusan yang sempat mengganggu aktivitas penerbangan di sekitar Jawa Timur. Meski demikian, aktivitas vulkanik ini pula yang membentuk pemandangan ikonik Bromo seperti savana, lautan pasir, dan kawah aktif yang justru menjadi daya tarik wisata hingga kini.

Dari asal-usul nama yang terinspirasi Dewa Brahma, hingga legenda pengorbanan Kesuma yang melahirkan Suku Tengger, setiap kisah membentuk lapisan budaya yang khas di kawasan ini. Tradisi Yadnya Kasada yang masih lestari hingga kini menjadi bukti nyata bahwa warisan tersebut terus dijaga. Ditambah jejak aktivitas vulkanik yang membentuk lanskap ikonik Bromo, semuanya menunjukkan bahwa sejarah Gunung Bromo adalah perpaduan unik antara mitos, budaya, dan fenomena geologi yang saling melengkapi hingga hari ini. 

Nah, setelah mengetahui sejarah dan asal usulnya, Anda jadi makin siap untuk berpetualang ke Gunung Bromo dengan bekal yang cukup. Untuk menemani perjalanan Anda, Landscape Bromo menghadirkan layanan perjalanan ke Bromo mulai dari open trip, private trip, dan paket wisata lain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. 

Yuk, hubungi Landscape Bromo sekarang dan pilih paket yang paling cocok untuk Anda!

FAQ

1. Kapan Gunung Bromo Terbentuk?

Gunung Bromo mulai terbentuk setelah keruntuhan Gunung Tengger Purba sekitar 45.000 hingga 40.000 tahun lalu. Setelah kaldera raksasa terbentuk, aktivitas magma yang masih berlangsung memunculkan kerucut baru di dalamnya, termasuk Bromo yang hingga kini tetap aktif.

2. Apa Arti Nama Gunung Bromo?

Nama Bromo berasal dari ejaan Jawa untuk “Brahma”, dewa pencipta dalam ajaran Hindu. Penamaan ini mencerminkan penghormatan masyarakat Tengger terhadap kekuatan alam dan keyakinan spiritual mereka.

3. Siapa Suku Asli di Sekitar Gunung Bromo?

Suku Tengger adalah masyarakat asli yang mendiami kawasan sekitar Gunung Bromo. Mereka dipercaya sebagai keturunan Roro Anteng dan Joko Seger, dengan nama “Tengger” diambil dari gabungan akhiran nama kedua tokoh legendaris tersebut.

4. Apakah Gunung Bromo Masih Aktif?

Ya, Gunung Bromo termasuk gunung berapi aktif dan terus dipantau oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Erupsi pertama tercatat sejak 1775, dengan aktivitas letusan yang masih berlangsung hingga beberapa tahun terakhir.

5. Apa Tradisi Utama Masyarakat Tengger Terkait Sejarah Gunung Bromo?

Yadnya Kasada adalah tradisi utama yang berkaitan langsung dengan sejarah gunung bromo, khususnya legenda pengorbanan Dewi Kusuma. Ritual ini digelar setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan rasa syukur masyarakat Tengger.